digital

Minggu, 13 November 2011

sistem instalasi gedung bertingkat

Sistem Gedung

Dalam merencanakan suatu bangunan, kita harus mempunyai konsep gedung yang akan dibangun, karena juga menentukan pemilihan penggunaan sistem konstruksi apa yang paling tepat digunakan dalam bangunan tersebut, mulai dari sistem pemilihan pondasi, sistem strukturnya, sistem pemilihan material finishingnya, sampai dengan pemilihan sistem MEP nya, tentu saja ujung-ujungnya tetap optimalisasi duit…. penghematan seminimal mungkin dengan hasil yang semaksimal mungkin, namun bila unsur ‘prestige’ yang berperan maka penghematan duit sedikit diabaikan.
Nanti secara bertahap saya akan coba menjelaskan satu persatu sistem tersebut, namun secara prinsip pekerjaan bangunan gedung dapat dibagi sbb:
A. STRUKTUR
B. FINISHING
C. SISTEM M & E, terdiri dari :
1.      MEKANIKAL
o    AIR CONDITIONING
§  CENTRAL ALL AIR SYSTEM
§  CENTRAL AIR WATER SYSTEM
§  CENTRAL ALL WATER SYSTEM
§  DIRECT REFRIGRANT / DX
o    FIRE FIGHTING
§  HYDRANT
§  SPRINKLER
§  GAS
§  FIRE EXTINGUISER
o    PLUMBING
§  AIR BERSIH
§  AIR KOTOR / BUANGAN
§  VENTING
o    TRANSPORTASI GEDUNG
§  ELEVATOR
§  ESCALATOR / TRAVELATOR
2.      ELEKTRIKAL & ELEKTRONIK
o    ELEKTRIKAL
§  LISTRIK
§  GENSET
o    ELEKTRONIK
§  FIRE ALARM
§  MATV
§  CCTV
§  CAR CALL




AC Direct Refrigerant

URAIAN
AIR CONDITIONING DIRECT REFRIGERANT ( DX SYSTEM ) adalah suatu sistem AC dimana proses pendinginan udara didalam suatu ruang tertutup yang diproses oleh Evaporator ( Indoor Unit & FCU ) langsung pada ruang tersebut.
Sistem ini sering digunakan untuk ruangan dengan luas terbatas. AC yang menggunakan sistem ini adalah : AC Window, Split, Split Duct, VRV.
PERALATAN UTAMA & FUNGSI
1.      Outdoor Unit
Adalah unit mesin refrigerasi yang terdiri dari Compressor, Condensor, Katup ekspansi dan Blower untuk pendinginan condensor.
Penempatan outdoor unit diluar dari ruangan yang didinginkan dengan ketentuan udara harus dapat bersirkulasi dengan baik.
2.      Indoor Unit & FCU
Adalah peralatan penukar kalor yang dilengkapi dengan blower yang berfungsi untuk menarik udara panas dari ruang untuk dilewatkan pada coil evaporator sehingga menjadi dingin dan selanjutnya dihembuskan ke dalam ruang.
DIAGRAM SYSTEM


AC Central All Water System

URAIAN SYSTEM
AC CENTRAL ALL WATER SYSTEM adalah suatu sistem AC dimana proses pendinginan udara didalam suatu ruang tertutup diproses oleh FCU ( Fan Coil Unit ) yang ditempatkan pada ruang yang didinginkan.
Air dingin yang dihasilkan oleh chiller didistribusikan ke FCU dengan menggunakan pipa yang diisolasi, selanjutnya udara didalam ruangan dihembuskan melewati FCU sehingga menjadi dingin dan selanjutnya udara dingin didistribusikan keruangan.
PERALATAN UTAMA & FUNGSI
1. CHILLER.
Adalah mesin refrigerasi yang berfungsi untuk mendinginkan air pada sisi evaporatornya. Air dingin yang dihasilkan selanjutnya didistribusikan ke mesin penukar kalor ( FCU / Fan Coil Unit ).
Jenis chiller didasarkan pada jenis compressornya :
a.       Reciprocating
b.      Screw
c.       Centrifugal
Jenis chiller didasarkan pada jenis cara pendinginan condensornya :
a.       Air Cooler
b.      Water Cooler
2. AHU.
Adalah suatu mesin penukar kalor, dimana udara panas dari ruangan dihembuskan melewati coil pendingin didalam AHU sehingga menjadi udara dingin yang selanjutnya didistribusikan ke ruangan.
3. COOLING TOWER ( khusus untuk chiller jenis Water Cooler ).
Adalah suatu mesin yang berfungsi untuk mendinginkan air yang dipakai pendinginan condenssor chiller dengan cara melewat air panas pada filamen didalam cooling tower yang dihembus oleh udara sekitar dengan blower yang suhunya lebih rendah.
3. POMPA SIRKULASI.
Ada dua jenis pompa sirkulasi, yaitu :
1. Pompa sirkulasi air dingin ( Chilled Water Pump ), berfungsi mensirkulasikan air dingin dari Chiller ke coil pendingin AHU / FCU.
2. Pompa Sirkulasi air pendingin ( Condenser Water Pump ). Pompa ini hanya untuk Chiller jenis Water Cooled dan berfungsi untuk mensirkulasikan air pendingin dari kondensor Chiller ke Cooling Tower dan seterusnya.



DIAGRAM SYSTEM.

AC Central Air Water System

URAIAN SYSTEM.
AIR – WATER SYSTEM adalah suatu sistem AC dimana proses pendinginan udara didalam suatu ruang tertutup diproses oleh AHU ( Air Handling Unit ) yang ditempatkan pada ruang lain yang terpisah dan FCU sekaligus didalam ruangan yang akan didinginkan. Jadi merupakan penggabungan pemakaian FCU & AHU.
PERALATAN UTAMA & FUNGSI.
1. CHILLER.
Adalah mesin refrigerasi yang berfungsi untuk mendinginkan air pada sisi evaporatornya. Air dingin yang dihasilkan selanjutnya didistribusikan ke mesin penukar kalor ( AHU, FCU / Fan Coil Unit).
Jenis chiller didasarkan pada jenis compressornya:
a.        Reciprocating
b.        Screw
c.        Centrifugal
Jenis chiller didasarkan pada jenis cara pendinginan condensornya :
a.       Air Cooler
b.      Water Cooler
2. AHU dan FCU.
Adalah suatu mesin penukar kalor, dimana udara panas dari ruangan dihembuskan melewati coil pendingin didalam AHU sehingga menjadi udara dingin yang selanjutnya didistribusikan ke ruangan.
3. COOLING TOWER ( khusus untuk chiller jenis Water Cooler ).
Adalah suatu mesin yang berfungsi untuk mendinginkan air yang dipakai pendinginan condenssor chiller dengan cara melewat air panas pada filamen didalam cooling tower yang dihembus oleh udara sekitar dengan blower yang suhunya lebih rendah.
3. POMPA SIRKULASI.
Ada dua jenis pompa sirkulasi, yaitu :
1.      Pompa sirkulasi air dingin ( Chilled Water Pump ). berfungsi mensirkulasikan air dingin dari Chiller ke coil pendingin AHU / FCU.
2. Pompa Sirkulasi air pendingin ( Condenser Water Pump). Pompa ini hanya untuk Chiller jenis Water Cooled dan berfungsi untuk mensirkulasikan air pendingin dari kondensor Chiller ke Tower dan seterusnya.
DIAGRAM SYSTEM

AC Central All Air System

URAIAN SISTEM
AC CENTRAL ALL AIR SYSTEM adalah suatu sistem AC dimana proses pendinginan udara didalam suatu ruang tertutup diproses oleh AHU ( Air Handling Unit ) yang ditempatkan pada ruang lain yang terpisah.
Udara dingin dari AHU melewati ducting supply & diffuser didistribusikan kedalam ruangan yang akan didinginkan dan udara panas dari ruangan tersebut dikembalikan lagi ke AHU untuk didinginkan melewati grille & ducting return, demikian seterusnya sehingga tercipta suatu siklus tertutup.
PERALATAN UTAMA & FUNGSI
1.   Chiller
Adalah mesin refrigerasi yang berfungsi untuk mendinginkan air pada sisi evaporatornya. Air dingin yang dihasilkan selanjutnya didistribusikan ke mesin penukar kalor ( AHU, FCU / Fan Coil Unit ).
Jenis chiller didasarkan pada jenis compressornya :
a.       Reciprocating
b.      Screw
c.       Centrifugal
Jenis chiller didasarkan pada jenis cara pendinginan condensornya :
a.       Air Cooler
b.      Water Cooler
2. AHU.
Adalah suatu mesin penukar kalor, dimana udara panas dari ruangan dihembuskan melewati coil pendingin didalam AHU sehingga menjadi udara dingin yang selanjutnya didistribusikan ke ruangan.
3.  Cooling Tower ( khusus untuk chiller jenis Water Cooler)
Adalah suatu mesin yang berfungsi untuk mendinginkan air yang dipakai pendinginan condenssor chiller dengan cara melewat air panas pada filamen didalam cooling tower yang dihembus oleh udara sekitar dengan blower yang suhunya lebih rendah.
4.  Pompa sirkulasi
Ada dua jenis pompa sirkulasi, yaitu :
a.       Pompa sirkulasi air dingin ( Chilled Water Pump ) berfungsi mensirkulasikan air dingin dari Chiller ke Koil pendingin AHU / FCU.
b.      Pompa Sirkulasi air pendingin ( Condenser Water Pump ).
Pompa ini hanya untuk Chiller jenis Water Cooled dan berfungsi untuk mensirkulasikan air pendingin dari kondensor Chiller ke Cooling Tower dan seterusnya.



DIAGRAM SYSTEM

Fire Fighting Fire Extinguisher

URAIAN SYSTEM
Fire Extinguisher atau Alat Pemadam Api Ringan (APAR) merupakan alat pemadam api yang pemakaiannya dilakukan secara manual dan langsung diarahkan pada posisi dimana api berada.
APAR disediakan pada tempat-tempat strategis yang disesuaikan dengan peraturan Dinas Pemadam Kebakaran :
  • Untuk setiap 200 m2 ruang terbuka disediakan 1 unit APAR type A dengan jarak antara setiap unit maksimum 20 meter.
  • Untuk ruang yang dilengkapi dengan pembagi / pembatas ruang, disediakan 1 unit APAR type A tanpa memperhatikan luas ruang.
  • Untuk daerah/ruang mekanikal-elektrikal berskala kecil disediakan 1 unit APAR type A dan 1 unit APAR type B.
  • Untuk daerah/ruang mekanikal-elektrikal berskala besar disediakan 1 unit APAR type A, 1 unit APAR type C dan 1 unit APAR type D.
PERALATAN UTAMA & FUNGSI
APAR Type A : Multipurpuse Dry Chemical Powder 3,5 kg
APAR Type B : Gas CO2 6,8 kg
APAR Type C : Gas CO2 10 kg
APAR Type D : Multipurpuse Dry Chemical Powder 25 kg (dilengkapi dengan trolley).

Fire Fighting Sistem Sprinkler

URAIAN SYSTEM
1.      Wet Riser System : Seluruh instalasi pipa sprinkler berisikan air bertekanan dengan tekanan air selalu dijaga pada tekanan yang relatif tetap
2.      Dry Riser System : Seluruh instalasi pipa sprinkler tidak berisikan air bertekanan, peralatan penyedia air akan mengalirkan air secara otomatis jika instalasi fire alarm memerintahkannya.
- Pada umumnya gedung bertingkat menggunakan sistim Wet Riser.
- Pada sistem dilengkapi Fire Brigade Connection yang diletakkan diluar bangunan.
PERALATAN UTAMA DAN FUNGSI
1. Pompa kebakaran terdiri dari Electric Pump, Diesel Pump & Jockey Pump.
  • Apabila tekanan didalam pipa menurun, maka secara otomatis Jockey pump akan bekerja untuk menstabilkan tekanan air didalam pipa.
  • Jika tekanan terus menurun (misal glass bulb pada kepala sprinkler pecah) maka pompa kebakaran utama akan bekerja dan otomatis pompa jockey berhenti.
  • Apabila pompa kebakaran utama gagal bekerja setelah 10 detik, kemudian pompa cadangan Diesel secara otomatis akan bekerja.
  • Jika kedua pompa tersebut gagal bekerja, alarm akan segera berbunyi dengan nada yang berbeda dengan bunyi alarm sistim, untuk memberi tahukan kepada operator akan adanya gangguan.
  • Sistim bekerja pompa Fire Hydrant adalah “Start otomatis” dan “Mati secara Manual”.
  • Pada saat pompa kebakaran utama bekerja, wet alarm valve akan terbuka dan segera membunyikan alarm gong. Aliran didalam pipa cabang akan memberi indikasi pada flow switch yang terpasang pada setiap cabang & dikirim ke panel fire alarm untuk membunyikan alarm pada lantai bersangkutan.
2. Pressure Switch : Alat kontrak yang bekerja akibat perubahan tekanan.
3. Manometer : Alat untuk membaca tekanan
4. Time delay relay : Alat relay yang bekerja berdasarkan seting waktu yang sudah ditentukan.
5. Safety valve : Alat pelepas tekanan lebih
6. Pressure Reducing Valve : Alat pembatas tekanan
7. Kepala Sprinkler (Head Sprinkler) : Alat pemancar air yang bekerja setelah pecahnya bulb akibat panas yang ditimbulkan oleh kebakaran. Ukuran kepala sprinker 15 mm, kepadatan pancaran 5 mm/mnt, area kerja maks. 144 m2, laju aliran 725 lt/mnt dan setiap katup kendali jumlah maks. adalah 1.000 buah kepala sprinkler.
DIAGRAM SYSTEM


Fire Fighting Sistem Fire Gas

URAIAN SYSTEM
Sistem Fire Gas hanya digunakan untuk ruang-ruang tertentu seperti : Ruang Genset, Ruang Panel, Ruang-ruang elektronik (central computer, IT, communication dll).
Sistem Fire Gas terpusat, dimana tabung-tabung gas (Foam, Halon, FM 1000, CO2 dll) ditempatkan secara terpusat dan pendistribusian kedalam ruangan dilewatkan melalui motorized valve/actuator, instalasi pemipaan dan nozzle-nozzle.
Cara kerja berdasarkan perintah dari instalasi fire alarm yang mendeteksi adanya kebakaran didalam ruang yang dikondisikan yang selanjutnya membuka motorized valve/actuator, sehingga gas bertekanan dalam tabung keluar kedalam ruangan.
Sistem fire gas individual, dimana pada tabung-tabung gas dipasang head sprinkler yang akan pecah apabila terkena panas atau berdasarkan perintah instalasi fire alarm dengan cara memecahkan bulb dengan actuator.

PERALATAN UTAMA & FUNGSI

1.      Flow Switch : Alat kontak yang bekerja akibat adanya aliran.
2.      Manometer : Alat untuk membaca tekanan
3.      Time delay relay : Alat relay yang bekerja berdasarkan seting waktu yang sudah ditentukan.
4.      Safety valve : Alat pelepas tekanan lebih
5.      Pressure Reducing Valve : Alat pembatas tekanan
6.      Nozzle : Alat penyemprot/pengabut gas
7.      Motorized valve/actuator : Alat pembuka/penutup gas
8.      Safety valve : Alat pelepas tekanan lebih
9.      Pressure Reducing Valve : Alat pembatas tekanan
DIAGRAM SYSTEM


Fire Fighting Sistem Hydrant

URAIAN SYSTEM
1.      Wet Riser System : Seluruh instalasi pipa hydrant berisikan air bertekanan dengan tekanan air selalu    dijaga pada tekanan yang relatif tetap.
2.      Dry Riser System : Seluruh instalasi pipa hydrant tidak berisikan air bertekanan, peralatan penyedia air akan mengalirkan air secara otomatis jika katup selang kebakaran dibuka.
-          Pada umumnya gedung bertingkat menggunakan sistim Wet Riser.
-          Pada sistem dilengkapi Fire Brigade Connection yang diletakkan diluar bangunan.
PERALATAN UTAMA DAN FUNGSI
1.      Pompa kebakaran terdiri dari Electric Pump, Diesel Pump & Jockey Pump.
  • Apabila tekanan didalam pipa menurun, maka secara otomatis Jockey pump akan bekerja untuk menstabilkan tekanan air didalam pipa.
  • Jika tekanan terus menurun (misal akibat penggunaan salah satu hydrant) maka pompa kebakaran utama akan bekerja dan otomatis pompa jockey berhenti.
  • Apabila pompa kebakaran utama gagal bekerja setelah 10 detik kemudian pompa cadangan Diesel secara otomatis akan bekerja.
  • Jika kedua pompa tersebut gagal bekerja, alarm akan segera berbunyi dengan nada yang berbeda dengan bunyi alarm sistim, untuk memberi tahukan kepada operator akan adanya gangguan.
  • Sistim bekerja pompa Fire Hydrant adalah “Start otomatis” dan “Mati secara Manual”
2.      Pressure Switch : Alat kontrak yang bekerja akibat perubahan tekanan.
3.      Manometer : Alat untuk membaca tekanan
4.      Time delay relay : Alat relay yang bekerja berdasarkan seting waktu yang sudah ditentukan.
5.      Safety valve : Alat pelepas tekanan lebih
6.      Pressure Reducing Valve : Alat pembatas tekanan
7.      Fire House Cabinet ( FHC ) : Adalah box hydrant yang berfungsi untuk memancarkan air melalui hose dan nozzle, dipasang pada setiap lantai sebanyak 1 FHC untuk setiap kelipatan 800 m2.
DIAGRAM SYSTEM.

Instalasi Plumbing Sistem Penyediaan Air Bersih

URAIAN SYSTEM
Sistem penyediaan dan distribusi air bersih.
  • Sumber air bersih bisa didapat dari PDAM dimasukan kedalam bak air bersih, sedangkan sumber air yang berasal dari Deep Well dimasukan kedalam raw water tank.
  • Air yang berada di raw water tank ditreatment di instalasi Water Treatment Plant dan selanjutnya dialirkan kebak air bersih / clear water tank.
  • Air yang berada didalam bak air bersih selanjutnya dialirkan ke bak air atas dengan Pompa Transfer.
  • Distribusi air bersih pada dua lantai teratas menggunakan packaged booster pump, sedangkan untuk lantai-lantai dibawahnya dialirkan secara gravitasi.
  • Pada umumnya persediaan air bersih diperhitungkan untuk cadangan 1 (satu) hari pemakaian air.
PERALATAN UTAMA & FUNGSI
1.      Pompa Transfer, berfungsi untuk menaikan air bersih dari Ground Water Tank (GWT) ke Roof tank melewati pipa transfer.
Beberapa jenis pompa transfer yang sering dipakai, antara lain :
a.       End suction
b.      Horizontal split case
c.       Multi stage
d.      Centrifugal
2.      Pressure Tank, berfungsi untuk meringankan kerja pompa dari keadaan start-stop yang terlalu sering.
Beberapa jenis pressure tank yang sering dipakai, antara lain :
a.       Pressure tank dengan diafragma
b.      Pressure tank tanpa diafragma
3.      Peralatan pengaturan dan ukur, meliputi :
a.       Check valve, berfungsi untuk menahan aliran balik air didalam instalasi pipa.
b.      Gate Valve, berfungsi untuk mengatur buka / tutup aliran air didalam pipa.
c.       Ball valve, Berfungsi untuk mengatur jumlah aliran air didalam pipa.
d.      Butterfly Valve, berfungsi untuk mengatur buka / tutup aliran air didalam pipa.
e.       Floating valve, berfungsi untuk membuka & menutup aliran air ke tanki.
f.       Foot Valve, berfungsi untuk menahan air balik.
g.      Strainer, berfungsi untuk menyaring.
h.      Flexible joint, berfungsi untuk menahan getaran/gerakan.
i.        Pressure gauge, berfugsi untuk pembacaan tekanan.
j.        Pressure switch, berfungsi sebagai alat kontak hubung/putus akibat tekanan.
k.      Flow switch, berfungsi sebagai alat kontak hubung/putus akibat aliran.
l.        Water meter, Berfungsi untuk mengukur debit air.
DIAGRAM SISTEM

Instalasi Plumbing Sistem Air Buangan

URAIAN SYSTEM
Sistem Pembuangan Air Buangan, merupakan sistem instalasi untuk mengalirkan air buangan yang berasal dari peralatan saniter maupun hasil buangan dapur.
Sistem Pembuangan Air Buangan dibedakan berdasarkan cara pembuangannya :
1.      Sistem pembuangan air campuran, yaitu sistem pembuangan dimana air kotor dan air bekas dialirkan kedalam satu saluran / pipa.
2.      Sistem pembuangan air terpisah, yaitu sistem pembuangan dimana air kotor dan air bekas masing-masing dialirkan secara terpisah atau menggunakan pipa yang berlainan.
Sistem Pembuangan Air Buangan dibedakan berdasarkan cara peletakannya:
1.      Sistem pembuangan gedung, yaitu sistem pembuangan yang berada didalam gedung.
2.      Sistem pembuangan luar, yaitu sistem yang berada diluar gedung, disebut juga riol gedung.
Sebelum air buangan dari peralatan saniter maupun dari buangan dapur dibuang ke saluran umum / kota maka harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu dengan Sewage Treatment Plant ( STP ), sehingga memenuhi ambang baku yang dipersyaratkan.
PERALATAN UTAMA & FUNGSI
1.      Pompa Submersible, berfungsi untuk menaikan level air kotor pada daerah level terendah ke instalasi pengolah yang levelnya lebih tinggi.
2. Sewage Treatment Plant ( STP )
STP berfungsi sebagai pengolah air buangan sehingga memenuhi persyaratan sebagai air buangan rumah tangga ( domestic waste ), yaitu dengan ketentuan :
a.       Kandungan zat tersuspensi rata-rata dalam waktu 24 jam adalah 20 mg / liter.
b.      Kebutuhan biologi untuk oksigen ( BOD ) rata-rata dalam waktu 24 jam adalah 20 mg / liter dengan kapasitas maksimum yang diperbolehkan s/d 30 mg / liter.
Beberapa jenis STP yang umum dipakai :
a. Extended Aeration Activated Sludge Process, terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
-    Equalizing tank
-    Aeration biozone
-    Primary settling tank
-    Chlorination tank
-    Effluent tank
b. Rotating Biological Contactor (RBC). Terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
-    Primary clarifier tank
-    Rotor disk
-    Final clarifier
-    Chlorination system
-    Sludge disposal
-    Effluent tank
c. Bio activator,
Merupakan kombinasi antara Extended Aeration Activated Sludge Process dengan Rotating Biological Contactor.
DIAGRAM SYSTEM
1.      Instalasi Air Buangan

2.      Instalasi STP.
STP jenis Extended Aeration Activated Sludge Process

STP jenis Rotating Biological Contactor (RBC)

Archive for the ‘Sistem Gedung’ Category

Instalasi Plumbing Sistem Venting

URAIAN SYSTEM
Sistem venting merupakan sistem instalasi untuk mengeluarkan udara yang terjebak didalam instalasi pipa air buangan.
Tujuan pemasangan pipa vent adalah :
1.      Menjaga sekat air dari efek siphon atau tekanan, sehingga dapat dipertahankan mempunyai kedalaman 50 – 100 mm.
2.      Menjaga aliran air yang lancar didalam pipa pembuangan.
3.      Memungkinkan adanya sirkulasi uadara didalam semua jaringan pipa pembuangan
Hal-hal yang dapat menyebabkan hilangnya sekat air :
1.      Efek siphon sendiri, timbul apabila seluruh perangkap dan pipa pembuangan terisi air buangan pada akhir proses pembuangan mengakibatkan sekat air akan ikut mengalir.
2.      Efek hisapan, akibat tekanan vakum pada alat plambing disebabkan adanya aliran pada pipa tegak yang terpasang dekat dengan sekat air.
3.      Efek tiupan, merupakan kebalikan dari hisapan.
4.      Efek kapiler, terjadi bila ada rambut atau serat yang tersangkut dekat dengan sekat air.
5.      Penguapan air, terjadi bila alat plumbing tidak dipergunakan dalam jangka waktu yang lama
Jenis-jenis sistem pipa vent :
1.      Sistem vent tunggal, sistem ini dipasang pada setiap alat plambing dan disambungkan pada vent lainnya atau langsung ke udara terbuka.
2.      Sistem vent lup, melayani dua atau lebih alat plumbing (maksimum 8 ) dan disambungkan ke vent pipa tegak.
3.      Sistem vent pipa tegak, merupakan perpanjangan dari pipa tegak buangan, diatas cabang mendatar yang paling tinggi.
4.      Sistem vent bersama, dimana pipa vent dipasang untuk melayani dua alat plumbing yang dipasang bertolak belakang.
5.      Sistem vent basah, dimana pipa vent berfungsi sebagai buangan dari alat plambing selain kloset.
6.      Sistem vent yoke, yaitu pipa vent yang menghubungkan pipa tegak air buangan dengan pipa tegak vent.
PERALATAN UTAMA & FUNGSI
Peralatan dari pada sistem venting adalah pipa PVC.

Sick Building Syndrome

Pembaca, dampak perencanaan sistem ventilasi udara yang kurang baik ternyata dapat menimbulkan sakit SBS (Sick Building Syndrome), apa itu SBS?
Kenali ‘Sick Building Syndrome”
Apakah yang dimaksud dengan Sick Building Syndrome (SBS)? SBS merupakan keluhan dan kumpulan permasalahan kesehatan yang timbul berkaitan dengan waktu yang dihabiskan dalam suatu bangunan dan berhubungan dengan kualitas udara dalam lingkungan.
Gejala yang ditimbulkan tidak spesifik, seperti sakit kepala, iritasi mata, badan cepat letih, perut terasa kembung, hidung berair, tenggorokan gatal, kesulitan dalam berkonsentrasi, kulit terasa kering serta batuk kering yang tidak kunjung sembuh.
Penyebab dari SBS antara lain ; kualitas udara dalam ruangan tercemar oleh radikal bebas (bahan kimiawi) yang berasal dari dalam maupun luar ruangan. Contohnya tercemar oleh mikroba atau disebabkan karena ventilasi udara kurang baik. Penyebab lainnya adalah polutan yang bisa mencemari ruangan, misalnya asap rokok, ozon yang berasal dari mesin fotocopi dan printer, volatile organics compounds yang berasal dari karpet, perabotan cat, bahan pembersih, debu, carbon monoxide, formalde-hyde, dll.
“Akumulasi radikal bebas tersebut tanpa kita sadari dapat menimbulkan penyakit. Radikal bebas ini dapat menyebabkan penyakit jangka panjang dan jangka pendek. Jangka panjang berupa penyakit kronis seperti kanker & jantung koroner, sedangkan jangka pendek menyebabkan kerusakan sel-sel daya tahan tubuh sehingga kita mudah terserang penyakit” kata dr Handy Purnama, Medical Marketing Manager Bayer Healtcare Consumer Care.
Dampak jangka panjang yang dapat ditimbulkan oleh SBS adalah, berbagai gangguan salurang pernafasan, seperti ; pneumonia, paru-paru, jantung dan penyakit kronis lain terkait dengan pencemaran udara. Beberapa penyakit kronis lain adalah gagal ginjal, gangguan system reproduksi, system syaraf, kanker, penurunan usia harapan hidup, dan penyakit paru serta jantung.
“Resiko menderita gangguan SBS terkait erat dengan erat dengan factor lingkungan yang menjadi media pencemar fisik, kimia, biologis, dan radiasi dimana kita kontak relatif lama terjadi. Terutama di tempat kerja, factor resiko lingkungan tersebut akan kontak dengan karyawan paling tidak 8 jam sehari, sehingga peluang resiko untuk terpajan dan mengalami SBS akan semakin besar”, kata Dr. Budi Haryanto, PhD, Msc dari IAKMI/FKM-UI.
Paparan radikal bebas memang sulit untuk dihindari. Oleh karena itu, dibutuhkan asupan antioksidan yang bisa menangkal radikal bebas berlebih didalam tubuh. Salah satu asupan antioksidan yang bisa anda pilih adalah suplemen nutrisi antioksidan yang diperkaya vitamin C, E, Zinc & Selenium.

Travelator

URAIAN SYSTEM
Escalator dan Travelator adalah sistem transportasi vertikal didalam bangunan gedung untuk memindahkan orang / barang dari satu lantai ke satu lantai yang berikutnya. Escalator diprioritaskan untuk transportasi orang dengan barang bawaan yang dijinjing sedangkan  Travelator untuk transportasi orang dengan barang yang didalam trolley. Pemilihan Escalator dan Travelator ditentukan oleh besarnya kapasitas yang diinginkan karena kecepatannya sudah tertentu, sedangkan faktor lainnya yang juga harus dipertimbangkan adalah hal sebgai berikut :
-          Sudut kemiringan, lebih didasarkan pada keterbatasan perencanaan dan kenyamanan.
-          Tinggi antar lantai, lebih didasarkan pada keputusan perencanaan.
-          Sistem operasi, memungkinkan elevator bisa digerakan dengan arah keatas atau kebawah.
PERALATAN UTAMA & FUNGSI
1. Rangka Konstruksi
-    Terbentuk dari batang-batang baja yang dicat tahan karat
2. Exterior Panel
-     Bagian bawah dan samping rangka tersebut ditutup dengan lembaran metal atau non metal mengikuti design interior
3. Mesin Penggerak
-    Diletakkan di bagian atas berupa motor listrik 3Ø, transmission reducer dan rantai penggerak yang memutar tangga.
4. Anak tangga
-    Terbuat dari die cast aluminium alloy yang dibentuk dengan alur-alur khusus.
5. Moving Handrails
-    Terbuat dari campuran karet khusus
6. Balustrade
-    Terbuat dari transparant tempered glass
7. Pengaman / Safety
-     Current overload, hand rail & Step chain safety Switch
-     Emergency stop botton
-     Over / under speed control switch
Pengaman terhadap perbedaan kecepatan antara step & handrail yang melebihi 10% dari kecepatan nominal.
Pengaman-pengaman lain sesuai standard pabrik
DIAGRAM SISTEM

Elevator/Lift

URAIAN SYSTEM
Sistem transportasi vertikal didalam bangunan gedung adalah suatu sistem peralatan yang digunakan untuk memindahkan orang / barang dari lantai bawah ke atas atau sebaliknya.
Jenis elevator dibedakan berdasarkan pemakaiannya, yaitu :
1.      Lift Penumpang
2.      Lift Service / Barang
3.      Dump Waiter
Pada prinsipnya ke-3 jenis lift tersebut adalah sama, hal yang membedakan adalah cara penggunaanya. Untuk lift service / barang selain dengan penggerak motor  listrik ada juga yang digerakan dengan sistem hidrolik.
Pada sistem lift yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut :
-          Kapasitas angkut, dinyatakan dalam Kg atau total jumlah orang.
-          Kecepatan gerak, dinyatakan dalam meter/menit.
-          Jumlah lantai yang dilayani, mencakup jumlah stop/opening dari pintu lift
-          Jarak gerak, car lift pada posisi terendah s/d teratas dinyatakan dalam meter.
-          Over head, jarak aman yang ditentukan dari lantai teratas s/d lantai ruang mesin.
-          Kedalaman pit, sangat ditentukan berdasarkan kecepatan lift.
-          Ukuran bersih shaft.
-          Jenis pintu (center opening atau side opening)
-          Sistem Kerja,
  • Simplex, lift bekerja secara individual & tidak terpengaruh oleh lift yang lain.
  • Duplex, 2 lift yang bekerja dalam 1 kontrol
  • Group control, beberapa lift yang bekerja dalam 1 kontrol.
-           Kriteria dalam pemilihan lift.
  • 5 mnt handling capacity = minimal 11 % atau lebih
  • Average interval = maksimal 40 sec atau dibawahnya.
Kriteria tersebut sangat mempengaruhi dalam penetapan kapasitas, kecepatan dan jumlah lift yang akan dipakai dalam suatu gedung.
PERALATAN UTAMA & FUNGSI
1.      Mesin pengangkat (hoisting machines)
-    Berupa motor listrik dengan transmisi menggunakan gear atau gearless.
2.     Rem
-    Rem menggunakan sistem arus listrik.
-    Sistim kontrol rem saling mengunci (interlock) secara elektris dengan sirkuit kontrol motor listrik, direncanakan dan diatur rem hanya bekerja untuk memegang kabin lift pada saat lift sudah berhenti dan rem tidak digunakan untuk memberhentikan lift
-    Kereta lift berhenti darurat, untuk melepas rem dilakukan secara manual
3.      Katrol ( sheaves )
-    Terbuat dari cor.
4.      Kawat penggantung ( ropes )
-    Ropes untuk kabin lift & counter weight terbuat dari baja berpilin
5.     Rel penuntun (guide rails).
-    Untuk kabin lift & counter weight dipasang menggunakan bracket dan terikat kuat pada struktur bangunan.
6.      Counter weight
-    Terbuat dari balok besi tuang yang dipasang tersusun pada rangka baja.
-    Mampu memberi keseimbangan sebesar berat kabin lift kosong ditambah 40% – 45% berat beban maksimum
7.      Sepatu Penuntun
-    Terpasang kuat pada bagian atas & bawah kabin lift & counterweight.
8.      Buffer
-    Terpasang dibawah kabin lift & counter weight.
9.      Kereta Lift Penumpang.
a.       Rangka Kereta Elevator
-    Dibuat dari profil baja yang dicat anti karat
-    Pada rangka ini terdapat paling sedikit empat buah sliding type guide shoes, dimana dua buah terletak pada bagian atas kereta dan yang lain pada bagian bawah kereta tepat guide rail.
b.      Lantai Kereta
-    Terbuat dari plat baja yang dicat anti karat.
-    Bagian bawah dilapisi peredam suara.
-    Ukuran dan kekuatan sesuai kapasitas angkut.
c.       Dinding Kereta
-    Terbuat dari plat baja dicat, stainless Steel Hairline Finish atau bahan lain yang dipakai & dibuat sesuai disain Arsitektur.
-    Bagian luar dilapisi peredam suara.
d.      Langit-langit Kereta
-    Terbuat dari plat baja yang dicat anti karat.
-    Ketinggian tidak kurang dari 2300 mm dimana terdapat pintu darurat yang hanya bisa dibuka dari atas kereta dan dilengkapi safety switch sehingga lift tidak beroperasi selama pintu tersebut dibuka.
-    Terdapat penerangan normal & darurat dengan sumber daya dari batere yang akan menyala pada saat listrik utama padam.
-    Terdapat Exhaust Grille dengan Exhaust Fan untuk ventilasi.
-    Bagian atas dilapisi peredam suara.
e.       Pintu Kereta
-    Terbuat dari plat baja dicat, stainless Steel Hairline Finish atau bahan lain yang dipakai & dibuat sesuai disain Arsitektur.
-    Terdiri atas dua panel side opening.
-    Penggerak pintu kereta adalah motor listrik yang dilengkapi dengan alat pengatur kecepatan.
f.       Indikator Kereta
-    Integrated dengan Car Operating Panel dilengkapi dengan penunjuk arah pergerakan kereta.
-    Indikator posisi kereta dan bel.
g.      Car Operating Panel
-    Terbuat dari SS plate dengan hairline finish atau sesuai pesanan.
-    Terdiri atas peralatan sebagai berikut :
  • Pushbutton untuk setiap lantai
  • Pushbutton untuk membuka pintu
  • Pushbutton untuk emergency stop
  • On-Off switch untuk lampu penerangan
  • On-Off switch untuk exhaust fan
  • Key-switch untuk indipendent operation
  • Lampu dan atau buzzer tanda kelebihan penumpang
  • Pushbutton untuk intercom
  • Plat nama pabrik pembuat
10. Magnetic Landing Device
-    Untuk memberhentikan kereta lift pada setiaplantai yang dituju dengan toleransi +/- 5 mm dari lantai yang bersangkutan.
11.  Landing Door
-    Mempunyai type dan dimensi yang sama dengan pintu keretanya.
-    Dilengkapi dengan wide jamb atau narrow jamb.
-    Terbuat dari plat baja dicat, stainless Steel Hairline Finish atau bahan lain yang dipakai & dibuat sesuai disain Arsitektur.
-    Dilengkapi dengan kunci pembuka secara manual dan interlock secara elektris dan mekanis dan dilengkapi dengan alat penutup otomatis dengan weight closer.
12. Door Sills danToe Guards
-    Terletak dibawah pintu, terbuat dari Extruded Alumunium yang didudukkan pada beton yang telah disediakan.
DIAGRAM SYSTEM

Transformator Distribusi
Melengkapi sistem Elektrikal dalam gedung, saya akan menulis mengenai Transformator Distribusi.
URAIAN SYSTEM
Transformator yang biasa diistilahkan dengan transformer atau ‘trafo’ adalah suatu alat untuk Transformator yang biasa diistilahkan dengan transformer atau ‘trafo’ adalah suatu alat untuk “memindahkan” daya listrik arus bolak-balik ( alternating current ) dari suatu rangkaian ke rangkaian lainnya berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik ( EMF Induction ) yang terjadi antara 2 induktor ( kumparan ) atau lebih.
Bagian-bagian terpenting dan mendasar dari sebuah trafo adalah :
  • Kumparan primer (primary winding) yg dihubungkan dengan sumber listrik,
  • Kumparan sekunder (secondary winding) yg dihubungkan dengan beban,
  • Inti / teras / kernel (core) yang berfungsi menyalurkan GGL induksi antar kedua kumparan
Perhatikan sketsa berikut :

1. Prinsip teknis kerja trafo :
Dalam  praktek,  dikenal 3 sistem pendeteksian dan  pengendalian,  yaitu :
Apabila  kumpatan primer dihubungkan dengan sumber tegangan dengan arus bolak balik (AC), maka arus I1 akan mengalir pada kumparan primer, dan menimbulkan flux magnet yang berubah – ubah sesuai frekuensi arus I1 pada kernel trafo, dan menimbulkan GGL induksi eρ pada kumparan primer. Besarnya GGL induksi eρ adalah :
eρ = – Nρ dø / dt volt ..….……….………………………………………. (1)
dengan :
eρ = GGL Induksi primer
Nρ = Jumlah lilitan primer
dø = Jumlah GGM, dalam weber
dt = Perubahan waktu, dalam detik
Perubahan flux magnetik yang menginduksi GGL ep adalah flux bersama (mutual flux), sehingga GGL induksi muncul pada kumparen sekunder sebagai es yang besarnya adalah :
es = – Ns (dø / dt) volt …………………………………………… (2)
dengan Ns = jumlah lilitan kumparan sekunder dari (1) dan (2), perbandingan lilitan dapat didapat dari perbandingan lilitan sebagai berikut :
a = ep / es = Np / Ns ……………..………………………………….. (3)
dengan ‘a’ = rasio perbandingan lilitan (turn ratio) transformator
Karena rasio perbandingan tegangan berbanding lurus dengan rasio perbandingan lilitan, maka apabila a<1 maka trafo berfungsi sebagai penurun tegangan (step down transformer), dan apabila nilai a>1 maka fungsinya adalah untuk menaikkan tegangan (step up transformer).
Flux pada saat dinyatakan dengan f(t) = fm sin wt dengan øm = nilai flux maksimum ( webwer), sehingga GGL pada kumparan primer adalah :
ep = – Np dø / dt
ep = – Np d øm sin ωt / dt
ep = – Np ω øm cos ωt
ep = – Np ω øm sin (ωt – Л/2)
GGL induksi primer maksimum adalah (ep)max = – Np ω øm, melalui persamaan :
ep = (Ep)max / √2
= Np ω øm / √2
= 2Л ø Np ω øm √2 / 2
= 3,14. 1.41 f Np øm
ep = 4,44 f Np øm ………………………………………..……………..……..….. (4)
dengan cara yang sama diperoleh :
es = 4,44 f Nsøm ………………………………..……….………….…………….. (5)
Apabila transformer dianggap ideal, tanpa rugi-rugi daya, maka daya input Pi dianggap sama dengan daya output Po. Sehingga dari ( 3 ) didapat:
U1.I1 = U2.I2
a = Np/Ns = U1/U2 = I1/I2 .………………………………………………………. (6)
Persamaan (5) dan (6) inilah yang biasa digunakan sebagai pendekatan dalam praktek pengawasan di lapangan.
2. Jenis / tipe dan klasifikasi trafo:        (akan di jelaskan dimateri tersendiri)
PERALATAN UTAMA & FUNGSI
Sesuai dengan penjelasan diatas,maka sebuah transformator distribusi berfungsi untuk menurunkan tegangan transmisi menengah 20kV ke tegangan distribusi 220/380V sehingga dengan demikian, peralatan utamanya adalah unit trafo itu sendiri ( umumnya jenis 3 phase ).
1. Kumparan tersier :
Selain kedua kumparan ( primer dan sekunder ) ada beberapa trafo yang dilengkapi dengan kumparan ketiga atau kumparan tersier ( tertiary winding ). Kumparan tersier diperlukan untuk memperoleh tegangan tersier atau untuk kebutuhan lain. Untuk kedua keperluan tersebut, kumparan tersier selalu dihubungkan delta.
Kumparan tersier sering dipergunakan juga untuk penyambungan peralatan bantu seperti kondensator synchrone, kapasitor shunt dan reactor shunt, namun demikian tidak semua trafo daya mempunyai kumparan tersier.
2. Media pendingin :
Khusus jenis trafo tenaga tipe basah, kumparan-kumparan dan intinya direndam dalam minyak-trafo, terutama trafo-trafo tenaga yang berkapasitas besar, karena minyak trafo mempunyai sifat sebagai media pemindah panas dan bersifat pula sebagai isolasi ( tegangan tembus tinggi ) sehingga berfungsi sebagai media pendingin dan isolasi. Untuk itu minyak trafo harus memenuhi persyaratan sbb. :
a. ketahanan isolasi harus tinggi ( >10kV/mm )
b. Berat jenis harus kecil, sehingga partikel-partikel inert di dalam minyak dapat mengendap dengan cepat.
c. Viskositas yang rendah agar lebih mudah bersirkulasi dan kemampuan pendinginan menjadi lebih baik.
d. Titik nyala yang tinggi, tidak mudah menguap yg dapat membahayakan
e. Tidak merusak bahan isolasi padat ( sifat kimia ‘y’ )
3. Bushing :
Merupakan penghubung antara kumparan trafo ke jaringan luar. Bushing adalah sebuah konduktor yang diselubungi oleh isolator, yang sekaligus berfungsi sebagai penyekat antara konduktor tersebut dengan tangki trafo.
4. Tangki dan konservator (khusus pada trafo tipe basah) :
Pada umumnya bagian-bagian dari trafo yang terendam minyak trafo yang ditempatkan di dalam tangki baja. Tangki trafo-trafo distribusi umumnya dilengkapi dengan sirip-sirip pendingin ( cooling fin ) yang berfungsi memperluas permukaan dinding tangki, sehingga penyaluran panas minyak pada saat konveksi menjadi semakin baik dan efektif untuk menampung pemuaian minyak trafo, tangki dilengkapi dengan konservator.
5. Tap changer ( perubah tap ) :
Tap Changer adalah perubah perbandingan transformator untuk mendapatkan tegangan operasi sekunder sesuai yang diinginkan dari tegangan jaringan / primer yang berubah-ubah. Tap changer dapat dioperasikan baik dalam keadaan berbeban ( on-load ) atau dalam keadaan tak berbeban ( off load ), tergantung jenisnya.
6.  Breather ( alat pernapasan ) :
Karena pengaruh naik turunnya beban trafo maupun suhu udara luar, maka suhu minyakpun akan berubah-ubah mengikuti keadaan tersebut. Bila suhu minyak tinggi, minyak akan memuai dan mendesak udara di atas permukaan minyak keluar dari dalam tangki, sebaliknya bila suhu minyak turun dan volumenya menyusut maka udara luar akan masuk ke dalam tangki. Proses tersebut “pernapasan trafo”. Hal tersebut menyebabkan permukaan minyak trafo akan selalu bersinggungan dengan udara luar yg menurunkan nilai tegangan tembus minyak trafo. Untuk mencegah hal tersebut maka pada ujung pipa penghubung  udara luar dilengkapi tabung khusus yg berisi kristal yg bersifat hygroskopis.
7.      Perlatan pengaman (safety devices):
Setiap unit trafo distribusi selalu dilengkapi dengan peralatan pengaman, yg mengamankan trafo khususnya fisis, elektris maupun kimiawi. Beberapa peralatan pengaman yg umum dikenal, antara lain :
a. Bucholz rele :
Rele ini berfungsi mendeteksi dan mengamankan trafo terhadap gangguan di dalam tangki yang menimbulkan gas. Gas dapat timbul diakibatkan oleh :
i.  Hubung singkat antar lilitan pada/dalam phasa
ii. Hubung singkat antar phasa atau phasa ke tanah
iii.Busur api listrik antar laminasi atau karena kontak yang kurang baik.
b. Over pressure rele :
Rele ini berfungsi hampir sama seperti rele Bucholz, yakni mengamankan terhadap gangguan di dalam trafo. Bedanya rele ini hanya bekerja oleh kenaikan tekanan gas yang tiba-tiba dan langsung mentripkan CB pada sisi upstream-nya.
c. Differential rele :
Berfungsi mengamankan trafo dari gangguan di dalam trafo antara lain flash over antara kumparan dengan kumparan, kumparan dengan tangki atau belitan dengan belitan di dalam kumparan ataupun antar kumparan.
d. Thermal rele :
Berfungsi untuk mengamankan trafo dari kerusakan isolasi kumparan, akibat adanya panas berlebih yang ditimbulkan oleh arus lebih ( over current ). Parameter yang diukur oleh rele ini adalah kenaikan temperatur.
Saat ini keempat jenis rele tersebut diintegrasikan pada satu jenis rele yang dikenal dengan DGPT2. Notasi DGPT2 berarti :
-    D      = Differential rele
-    G      = Gas rele
-    P       = Pressure rele
-    T2     = Temperature ( thermal ) rele dengan 2 thermostat, masing masing digunakan untuk men-triger alarm dan yang lainnya untuk mengoperasikan kumparan shunt pada CB di sisi upstream, untuk memutuskan / men-trip pasokan daya ke trafo.
e. OCR ( Over Current Rele) :
Berfungsi mengamankan trafo arus yang melebihi nilai yang diperkenankan lewat pada trafo tersebut. Arus lebih dapat terjadi oleh karena beban lebih atau gangguan hubung singkat.
f. Rele tangki–tanah :
Berfungsi untuk mengamankan trafo bila terjadi hubung singkat antara bagian yang bertegangan dengan bagian yang tidak bertegangan pada trafo.
g. Restricted Earth Fault rele :
Berfungsi untuk mengamankan trafo bila terjadi gangguan hubung singkat 1 phasa ke tanah.
h.      Indikator-indikator :
Untuk mengawasi kondisi trafo selama beroperasi, maka setiap unit trafo umumnya dilengkapi dengan indikator-indikator berikut :
i.   Indikator suhu minyak
ii.  Indikator permukaan minyak
iii. Indikator sistem pendingin
iv. Indikator kedudukan tap
Gambar.1. Power Trafo 5MVA lengkap dengan oil conservator dan gambar.2. Power Trafo 1250kVA hermetic shell
Gambar.3. DGPT2 rele dengan front dial, Gambar.4. DGPT2 rele dengan secure valve dan Gambar.5. Bucholzs rele
DIAGRAM SISTEM

Gambar 6 : Contoh penempatan unit trafo distribusi dalam sistem

MVDB

URAIAN SYSTEM
MVDB atau Medium Voltage Distribution Board ( kadang kadang digunakan istilah MVDP/Medium Voltage Distribution Panel) atau PTM(Panel Tegangan Menengah)adalah unit switching tegangan menengah yang berfungsi mendistribusikan beban ke panel-panel yang lebih kecil kapasitasnya, yang berada di sisi down-steam-nya. Pada pelaksanaannya di lapangan banyak digunakan istilah yang berbeda-beda, kadang ada yang menyebut Distribution Board, Switchgear, MCC Panel dsb. MVMDB umumnya terdiri dari 2 atau 3 kompartemen, yaitu kompartemen incoming dan kompartemen outgoing saja atau dilengkapi dengan kompartemen bus block atau metering.
PERALATAN UTAMA DAN FUNGSI
1. MV Cubical
Konstruksi cubical MVMDB umumnya ditentukan berdasarkan :
a.       cara pengoperasian panel, antisipasi perluasan panel
b.      cara perawatan
c.       kekuatan rangka dan dinding panel
d.      kemungkinan kesalahan hubungan singkat
Tipe yang paling umum ditemukan dalam pelaksanaan adalah air insulated metal cladding type.
Badan cubical terbuat dari lembaran baja yang diamankan dengan pentanahan khusus. Pada panel tipe ini, faktor kelembaban, kontaminasi, masuknya gas explosif, uap korosif, debu dan binatang-binatang kecil masih merupakan masalah.
Susunan bus bar yang memanjang di keseluruhan panel membentuk panel dengan dimensi panjang dan jumlah panel yang tetap. Untuk mengatasinya maka digunakan gas SF6 ( sulfur hexafluoride ) sebagai isolasi komponen utama di dalam setiap panel baja kedap udara, sehingga semua komponennya terlindung dari faktor-faktor di atas. Bus bar panel diletakkan dalam selubung isolasi per-phasa, sambungan panel dengan panel atau blok panel diberikan dengan menggunakan busbar sumbat CU berisolasi semi konduktif. Fleksibilitas sambungan untuk perluasan panel bisa diletakkan di kanan atau kiri panel asal. Tipe ini dikenal dengan istilah full encloded atau gas insulated metal cladding MV switchgear.
Perhatikan sketsa berikut :

Keterangan :
1. Laci tegangan rendah
2. Mekanisme pengoperasi CB
3. Bushing tipe pipa hembus
4. Kinematik diujung kutub
5. Mekanisme dibantu per
6. Mekanisme toggle
7. Saklar 3 posisi
8. Terminal kabel utama (insulator kerucut udara)
9. Rumah RMU di las kedap udara
10. Bus-bar 630A (konduktor diisolasi + adapter/penyesuaian silikon.
11. Ventilasi jalan asap
2. MV Circuit Breaker
MV Circuit  Breaker ( pemutus daya )  umumnya  merupakan  pemutus  3 pole ( kutub ) yang dipasang di unit panel CB atau panel hubung bus.
Pemutus 3 kutup ini diakomodasikan dalam rumah baja anti karat diseal kedap udara, dengan mekanisme operasi yang disusun di luar rumah RMU di belakang pelat depan panel. Operasi mekanis menggerakkan kutub-kutub pemutus dengan batang penggerak yang terbuat tanpa seal dalam ruang gas SF6; barang tersebut berupa pipa hembus metal yang dilas.
Mekanisme kerja CB ini berdasarkan energi yang disimpan per. Sewaktu penutupan CB per penutup dibuka dengan alat lokal, tombol atau remote, sehingga energi per lepas ke kontak dan ke per pembuka. Per penutup yang kendor diisi energi lagi dengan motor atau tangan, sehingga punya simpanan energi untuk urutan operasi OPEN-CLOSE-OPEN, misalnya untuk operasi penutupan ulang otomatis yang gagal.
Seperti umumnya pemilihan material cicuit breaker, faktor yang diperhitungkan sebagai parameter antara lain :
a.       Kapasitas daya
b.      Tegangan dan frekuensi kerja
c.       Arus pemutusan hubung singkat
d.      Arus hubung singkat
e.       Arus waktu pendek 3 detik
f.       Tipe breaker dan pengaman breaker :
Berdasarkan faktor-faktor di atas, dapat digunakan MCB (Moulded CB), LBS, vacuum CB atau gas insulated CB (menggunakan media SF6).

Gambar.7. Unit SF6 LBS (sumber ABB)

Gambar.8. Vacum LBS-Indoor mounted
3. Change Over Switch ( COS )
Sesuai dengan namanya, alat ini berfungsi sebagai ‘pemindah’ sambungan (bukan pemutus arus) yang memindahkan sambungan busbar dari titik bertegangan ke titik pentanahan (earthed point) yang harus dioperasikan pada saat dilakukan perawatan terhadap PTM. Sama seperti CB, COS juga dilengkapi dengan sistem proteksi terhadap lompatan listrik pada saat pemindahan kontak, mengingat adanya muatan sisa pada jaringan instalasi di sisi downstream-nya. Saklar ini berupa saklar putar multi ruang yang mengkombinasikan saklar pemutus daya dan saklar ke pentanahan, dimana proses dengan kontak bergerak di dalam ruang yang berisi kontak-kontak tetap. Kemudian ada lempengan yang menempel kontak gerak ( sudu-sudu) dan berputar dengan poros saklar membagi ruang ke dalam 2 sub-ruang yang berubah dengan putaran.
Pada COS dengan tipe isolasi gas SF6, pergerakan saklar mengakibatkan beda tekanan antara sub-ruang. Gas akan mengalir melalui celah atau nosel ke atas percikan yg terjadi karena pemisahan kontak & gas SF6 tersebut mendinginkan & memadamkan dalam waktu singkat.
Saklar ini adalah saklar multi fungsi (mengikuti standard DIN VDE & IEC), di mana dapat mengalihkan arus hubung singkat paling tidak 10x tanpa rusak & dapat digunakan sbg. pemutus arus 100x ukuran arus normal. Posisi saklar adalah “closed”, “open” dan “earthed”, tidak diperlukan interlocking karena closed dan earthed tidak mungkin terjadi bersamaan.
3. Aparatus Pendukung
Aparatus pendukung yang merupakan kelengkapan standard MVMDB yang harus diperiksa pada saat pemilihan material maupun pada saat instalasi dilapangan, antara lain :
a. HV HRC Fuse
Sisi MVDP yang berhubungan dengan transformer HV HRC fuse (sikring) digunakan untuk melindungi transformer dari kesalahan hubung singkat. Fuse dipasang dengan insulator phasa tunggal x3 di dalam tempat ber-insulator yang diletakkan di atas rumah RMU.
Jika fuse HV HRC terbakar putus, saklar dibuka mekanisme toggle yang dipasang ditutup ruang fuse. Suatu thermostar melindungi fuse dari kejadian fuse terbuka ( tripping ) karena kesalahan beban lebih thermal, misalnya fuse terpasang salah dimana terjadi tekanan berlebih membuka saklar lewat membran silikon tertutup ruang fuse dengan suatu saklar togle. Dengan demikian arus terputus sebelum fuse menderita kerusakan yang tidak dapat diperbaiki. Perangkat tersebut bebas rawat & tidak terpengaruh iklim luar, sedangkan untuk mengganti skring, transformer & jalan masuk ke skring harus diisolasi & ditanahkan, lalu sikring diganti secara manual.
b. Indikator dan metering.
Metering atau perlengkapan pengukuran daya, tegangan atau arus dan indikator-indikator lainnya merupakan kelengkapan / aksesories yang biasanya dipasang pada panel metering ( terpisah dari kompartemen switchgear ). Meter2 yang dikenal saat ini harus sudah memenuhi standarisasi berikut :
i.      IEC, BS, DIN dan ANSI untuk standard manufacturing
ii.      ISO 9001-200; ISO 14001, untuk standard sertifikasi quality assurance
iii.      KEMA, PTB dll untuk standar sertifikasi test
Besaran-besaran elektris ( kuat arus dan tegangan ) diperoleh melalui trafo-trafo ukur tegangan dan arus ( current & potential transformer ), seperti contoh-contoh berikut :
Gambar.9. 15kV Current Transformer, flex-core dan Gambar.10. 15 kV Potensial Transformer,flex-core
Gambar.11. MV digital Power Meter,flex-core dan Gambar.12. Digital Switchboard meter ,flex-core



DIAGRAM SYSTEM
Drawing : Kombinasi antara MV Distribution switchboard dengan Trafo substation (SM6 Series MG-Schneider)


Drawing : I/O MV Switchboard (SM6 Series : MG- Schneider)

Drawing : I/O Switchboard dengan CB protection (SM6 Series : MG-Schneider)
Gambar.13. Kombinasi beberapa tipe jaringan pada sistem distribusi daya
Kombinasi beberapa tipe jaringan pada sistem distribusi daya :
1. Sistem Supergrids Tegangan Ekstra Tinggi (EHV)
2. Sistem Tegangan Menengah (MV)
3. Sistem Tegangan Distribusi/Rendah (LV)

Sistem Distribusi Elektrikal

URAIAN SYSTEM
Yang dimaksud dengan sistem distribusi elektrikal adalah suatu sistem yang didesain dan dibangun untuk memasok daya listrik bagi sekelompok beban,dan hal tersebut merupakan suatu sistem yang cukup kompleks, dimulai dari instalasi sumber / source sampai instalasi beban/load).Sesuai dengan batasan, sistem distribusi elektrikal yang dibahas adalah instalasi listrik dalam gedung, dengan pasokan tegangan menegah (TM) dari sumber PLN dengan sumber cadangan dari genset.
PERALATAN UTAMA & FUNGSI
Peralatan utama sistem distribusi elektrikal terdiri dari :
1.   Instalasi penyulang TM (20 kV)
Merupakan jaringan (kabel/busduct) penyalur tegangan menengah dari gardu distribusi PLN ke peralatan TM di gardu pengguna.
2.   MVMDB
Medium Voltage Main Distribution Board adalah panel switching tegangan menengah yang ber­fungsi sebagai switcher dan pengendali daya TM di sisi pengguna. Komponen utama yang perlu diperhatikan pada MVMDB antara lain :
a.       Main CB/LBSMV
b.Fuse
c.       Peralatan proteksi/safety devices
3.  Transformator Distribusi
Transformator merupakan alat pengubah tegangan (up/down) yang bekerja berdasarkan  prinsip GGL induksi dan mutual inductance.Dalam bahan ini dibahas tentang step-down transformer,untuk  menurunkan tegangan jaringan 20kV ke tegangan distribusi 220/380 V.
4.   LVMDB
Low Voltage Main Distribution Board sebagai switcher tegangan rendah ke masing-masing sub-panel di sisi beban.
5.   Instalasi Penyulang TR
Instalasi ini berfungsi menyalurkan daya listrik tegangan rendah dari LVMDB ke sub panel atau dari sub panel ke beban. Pemilihan jenis saluran (kabel/busduct) tergantung dari posisi penempatan dan kapasitas penyalurannya.
6.   Sub Panel TR
Sub panel TR adalah panel-panel downstream yang langsung berfungsi sebagai switcher, dan pengaman beban. Ada sub panel yang hanya berfungsi sebagai switcher, tapi ada juga yang dilengkapi dengan aparat pengaturan dan instrumentasi.
8.      Beban / Load
Beban terhadap distribusi daya listrik dalam suatu bangunan gedung umumnya dikelompokkan ke­dalam 2 kategori besar, yaitu :
a.       Kelompok beban elektrikal / elektronik, yang antara lain terdiri dari :
-          Penerangan dan stop-kontak
-          Sistem Pengindera Api atau Fire Alarm (FA)
-          Sistem Tata Suara atau Sound System (SS)
-          Sistem MATV dan CCTV
-          Sistem Otomatisasi Bangunan (B.A.S.)
-          Sistem Komunikasi Data
b. Kelompok beban Mekanikal ( dibahas terpisah )
DIAGRAM SYSTEM

LIGHTING

1. Latar Belakang
Sejak dimulainya peradaban hingga sekarang, manusia menciptakan cahaya hanya dari api, walaupun lebih banyak sumber panas daripada cahaya. Di abad ke 21 ini kita masih menggunakan prinsip yang sama dalam menghasilkan panas dan cahaya melalui lampu pijar. Hanya dalam beberapa dekade terakhir produk-produk penerangan menjadi lebih canggih dan beraneka ragam. Perkiraan menunjukan bahwa pemakaian energi oleh penerangan adalah 20 – 45% untuk pemakaian energi total oleh bangunan komersial dan sekitar 3 – 10% untuk pemakaian energi total oleh plant industri. Hampir kebanyakan pengguna energi komersial dan industri peduli penghematan energi dalam sistim penerangan. Seringkali, penghematan energi yang cukup berarti dapat didapatkan dengan investasi yang minim dan masuk akal. Mengganti lampu uap merkuri atau sumber lampu pijar dengan logam halida atau sodium bertekanan tinggi akan menghasilkan pengurangan biaya energi dan meningkatkan jarak penglihatan. Memasang dan menggunakan kontrol foto, pengaturan waktu penerangan, dan sistim manajemen energi juga dapat memperoleh penghematan yang luar biasa. Walau begitu, dalam beberapa kasus mungkin perlu mempertimbangkan modifikasi rancangan penerangan untuk mendapatkan penghematan energi yang dikehendaki. Penting untuk dimengerti bahwa lampu-lampu yang efisien, belum tentu merupakan sistim penerangan yang efisien.
2. JENIS-JENIS SISTIM PENCAHAYAAN
Menjelaskan berbagai jenis dan komponen sistim pencahayaan.
2.1. Lampu Pijar (GLS)
Lampu pijar bertindak sebagai ‘badan abu-abu’ yang secara selektif memancarkan radiasi, dan hampir seluruhnya terjadi pada daerah nampak. Bola lampu terdiri dari hampa udara atau berisi gas, yang dapat menghentikan oksidasi dari kawat pijar tungsten, namun tidak akan menghentikan penguapan. Warna gelap bola lampu dikarenakan tungsten yang teruapkan mengembun pada permukaan lampu yang relatif dingin. Dengan adanya gas inert, akan menekan terjadinya penguapan, dan semakin besar berat molekulnya akan makin mudah menekan terjadinya penguapan. Untuk lampu biasa dengan harga yang murah, digunakan campuran argon nitrogen dengan perbandingan 9/1. Kripton atau Xenon hanya digunakan dalam penerapan khusus seperti lampu sepeda dimana bola lampunya berukuran kecil, untuk mengimbangi kenaikan harga, dan jika penampilan merupakan hal yang penting. Gas yang terdapat dalam bola pijar dapat menyalurkan panas dari kawat pijar, sehingga daya hantar yang rendah menjadi penting. Lampu yang berisi gas biasanya memadukan sekering dalam kawat timah. Gangguan kecil dapat menyebabkan pemutusan arus listrik, yang dapat menarik arus yang sangat tinggi. Jika patahnya kawat pijar merupakan akhir dari umur lampu, tetapi untuk kerusakan sekering tidak begitu halnya.
2.2. Lampu Tungsten–Halogen
Lampu halogen adalah sejenis lampu pijar. Lampu ini memiliki kawat pijar tungsten seperti lampu pijar biasa yang digunakan di rumah, tetapi bola lampunya diisi dengan gas halogen. Atom tungsten menguap dari kawat pijar panas dan bergerak naik ke dinding pendingin bola lampu. Atom tungsten, oksigen dan halogen bergabung pada dinding bola lampu membentuk molekul oksihalida tungsten. Suhu dinding bola lampu menjaga molekul oksihalida tungsten dalam keadaan uap. Molekul bergerak kearah kawat pijar panas dimana suhu tinggi memecahnya menjadi terpisah-pisah. Atom tungsten disimpan kembali pada daerah pendinginan dari kawat pijar – bukan ditempat yang sama dimana atom diuapkan. Pemecahan biasanya terjadi dekat sambungan antara kawat pijar tungsten dan kawat timah molibdenum dimana suhu turun secara tajam.
2.3. Lampu Neon
2.3.1. Ciri-ciri lampu Neon
Lampu neon, 3 hingga 5 kali lebih efisien daripada lampu pijar standar dan dapat bertahan 10 hingga 20 kali lebih awet. Dengan melewatkan listrik melalui uap gas atau logam akan menyebabkan radiasi elektromagnetik pada panjang gelombang tertentu sesuai dengan komposisi kimia dan tekanan gasnya. Tabung neon memiliki uap merkuri bertekanan rendah, dan akan memancarkan sejumlah kecil radiasi biru/ hijau, namun kebanyakan akan berupa UV pada 253,7nm dan 185nm. Bagian dalam dinding kaca memiliki pelapis tipis fospor, hal ini dipilih untuk menyerap radiasi UV dan meneruskannya ke daerah nampak. Proses ini memiliki efisiensi sekitar 50%. Tabung neon merupakan lampu ‘katode panas’, sebab katode dipanaskan sebagai bagian dari proses awal. Katodenya berupa kawat pijar tungsten dengan sebuah lapisan barium karbonat. Jika dipanaskan, lapisan ini akan mengeluarkan elektron tambahan untuk membantu pelepasan. Lapisan ini tidak boleh diberi pemanasan berlebih sebab umur lampu akan berkurang. Lampu menggunakan kaca soda kapur yang merupakan pemancar UV yang buruk. Jumlah merkurinya sangat kecil, biasanya 12 mg. Lampu yang terbaru menggunakan amalgam merkuri, yang kandungannya sekitar 5 mg. Hal ini memungkinkan tekanan merkuri optimum berada pada kisaran suhu yang lebih luas. Lampu ini sangat berguna bagi pencahayaan luar ruangan karena memiliki fitting yang kompak.
2.3.2. Bagaimana lampu neon T12, T10, T8, dan T5 bisa berbeda?
Keempat lampu tersebut memiliki diameter yang beragam (berbeda sekitar 1,5 inchi, yaitu 12/8 inchi untuk lampu T12 hingga 0,625 atau 5/8 inchi untuk lampu T5). Efficacy merupakan lain yang membedakan satu lampu dari yang lainnya. Efficacy lampu T5 dan T8 lebih tinggi 5 persen dari lampu T12 yang 40-watt, dan telah menjadi pilihan paling populer untuk pemasangan lampu baru.
2.3.3. Pengaruh suhu
Operasi lampu yang paling efisien dicapai bila suhu ambien berada antara 20 dan 30°C untuk lampu neon. Suhu yang lebih rendah menyebabkan penurunan tekanan merkuri, yang berarti bahwa energi UV yang diproduksi menjadi semakin sedikit; oleh karena itu, lebih sedikit energi UV yang berlaku sebagai fospor sehingga sebagai hasilnya cahaya yang dihasilkan menjadi sedikit. Suhu yang tinggi menyebabkan pergeseran dalam panjang gelombang UV yang dihasilkan sehingga akan lebih dekat ke spektrum tampak. Makin panjang panjang gelombang UV akan makin sedikit pengaruhnya terhadap fospor, dan oleh karena itu keluaran cahaya pun akan berkurang. Pengaruh keseluruhannya adalah bahwa keluaran cahayanya jatuh diatas dan dibawah kisaran suhu ambien yang optimal.
2.3.4. Lampu neon yang kompak
Lampu neon kompak yang tersedia saat ini membuka seluruh pasar bagi lampu neon. Lampu-lampu ini dirancang dengan bentuk yang lebih kecil yang dapat bersaing dengan lampu pijar dan uap merkuri di pasaran lampu dan memiliki bentuk bulat atau segi empat. Produk di pasaran tersedia dengan gir pengontrol yang sudah terpasang (GFG) atau terpisah (CFN).
2.4. Lampu Sodium
2.4.1. Lampu sodium tekanan tinggi
Lampu sodium tekanan tinggi (HPS) banyak digunakan untuk penerapan di luar ruangan dan industri. Efficacy nya yang tinggi membuatnya menjadi pilihan yang lebih baik daripada metal halida, terutama bila perubahan warna yang baik bukan menjadi prioritas. Lampu HPS berbeda dari lampu merkuri dan metal halida karena tidak memiliki starter elektroda; sirkuit ballast dan starter elektronik tegangan tinggi. Tabung pemancar listrik terbuat dari bahan keramik, yang dapat menahan suhu hingga 2372F. Didalamnya diisi dengan xenon untuk membantu menyalakan pemancar listrik, juga campuran gas sodium – merkuri.
2.4.2. Lampu sodium tekanan rendah
Walaupun lampu sodium tekanan rendah (LPS) serupa dengan sistim neon (sebab keduanya menggunakan sistim tekanan rendah), mereka umumnya dimasukkan kedalam keluarga HID. Lampu LPS adalah sumber cahaya yang paling sukses, namun produksi semua jenis lampunya berkualitas sangat jelek. Sebagai sumber cahaya monokromatis, semua warna nampak hitam, putih, atau berbayang abu-abu. Lampu LPS tersedia dalam kisaran 18-180 watt. Penggunaan lampu LPS umumnya hanya untuk penggunaan luar ruang seperti penerangan keamanan atau jalanan dan jalan dalam gedung, penggunaan watt nya rendah dimana kualitas warnanya tidak penting (seperti ruangan tangga). Walau demikian, karena perubahan warnanya sangat buruk, beberapa daerah tidak mengijinkan penggunaan lampu tersebut untuk penerangan jalan raya.
2.5. Lampu Uap Merkuri
Lampu uap merkuri merupakan model tertua lampu HID. Walaupun mereka memiliki umur yang panjang dan biaya awal yang rendah, lampu ini memiliki efficacy yang buruk (30 hingga 65 lumens per watt, tidak termasuk kerugian balas) dan memancarkan warna hijau pucat. Isu paling penting tentang lampu uap merkuri adalah bagaimana caranya supaya digunakan jenis sumber HID atau neon lainnya yang memiliki efficacy dan perubahan warna yang lebih baik. Lampu uap merkuri yang bening, yang menghasilkan cahaya biru-hijau, terdiri dari tabung pemancar uap merkuri dengan elektroda tungsten di kedua ujungnya. Lampu tersebut memiliki efficacy terendah dari keluarga HID, penurunan lumen yang cepat, dan indeks perubahan warna yang rendah. Disebabkan karakteristik tersebut, lampu jenis HID yang lain telah menggantikan lampu uap merkuri dalam banyak penggunaannya. Walau begitu, lampu uap merkuri masih merupakan sumber yang populer untuk penerangan taman sebab umur lampunya yang mencapai 24.000 jam dan bayangan taman yang hijaunya terlihat seperti gambaran hidup. Pemancar disimpan di bagian dalam bola lampu yang disebut tabung pemancar. Tabung pemancar diisi dengan gas merkuri dan argon murni. Tabung pemancar tertutup di dalam bola lampu yang berada diluarnya, yang diisi dengan nitrogen.
2.6. Lampu Kombinasi
Lampu kombinasi kadang disebut sebagai lampu two-in-one. Lampu ini mengkombinasikan dua sumber cahaya yang tertutup dalam satu lampu yang diisi gas. Salah satu sumbernya adalah tabung pelepas merkuri kuarsa (seperti sebuah lampu merkuri) dan sumber lainnya adalah kawat pijar tungsten yang disambungkan secara seri. Kawat pijar ini bertindak sebagai balas untuk tabung pelepasan yang menstabilkan arus, jadi tidak diperlukan balas yang lain. Kawat pijar tungsten digulung dengan susunan melingkar pada tabung pelepasan dan dihubungkan dalam susunan seri. Lapisan bubuk fluorescent diletakkan ke bagian dalam dinding lampu untuk mengubah sinar UV yang dipancarkan dari tabung pelepas ke cahaya nampak. Pada penyalaan, lampu hanya memancarkan cahaya dari kawat pijar tungsten, dan selama perjalanan sekitar 3 menit, pemancar didalam tabung pelepas melesat mencapai keluaran cahaya penuh. Lampu ini cocok untuk area anti nyala dan dapat disesuaikan dengan perlengkapan lampu pijar tanpa modifikasi.
2.7. Lampu Metal Halida
Halida bertindak sama halnya dengan siklus halogen tungsten. Manakala suhu bertambah maka terjadi pemecahan senyawa halida melepaskan logam ke pemancar. Halida mencegah dinding kuarsa diserang oleh logam-logam alkali.
2.8. Lampu LED
Lampu LED merupakan lampu terbaru yang merupakan sumber cahaya yang efisien energinya. Ketika lampu LED memancarkan cahaya nampak pada gelombang spektrum yang sangat sempit, mereka dapat memproduksi “cahaya putih”. Hal ini sesuai dengan kesatuan susunan merah-biru hijau atau lampu LED biru berlapis fospor. Lampu LED bertahan dari 40.000 hingga 100.000 jam tergantung pada warna. Lampu LED digunakan untuk banyak penerapan pencahayaan seperti tanda keluar, sinyal lalu lintas, cahaya dibawah lemari, dan berbagai penerapan dekoratif. Walaupun masih dalam masa perkembangan, teknologi lampu LED sangat cepat mengalami kemajuan dan menjanjikan untuk masa depan. Pada cahaya sinyal lalu lintas, pasar yang kuat untuk LED, sinyal lalu lintas warna merah menggunakan lampu 10W yang setara dengan 196 LEDs, menggantikan lampu pijar yang menggunakan 150W. Berbagai perkiraan potensi penghematan energi berkisar dari 82% hingga 93%. Produk pengganti LED, diproduksi dalam berbagai bentuk termasuk batang ringan, panel dan sekrup dalam lampu LED, biasanya memiliki kekuatan 2-5W masing-masing, memberikan penghematan yang cukup berarti dibanding lampu pijar dengan bonus keuntungan masa pakai yang lebih lama, yang pada gilirannya mengurangi perawatan.
2.9. Komponen Pencahayaan
2.9.1. Luminer/ Reflektor
Elemen yang paling penting dalam perlengkapan cahaya, selain dari lampu, adalah reflector. Reflektor berdampak pada banyaknya cahaya lampu mencapai area yang diterangi dan juga pola distribusi cahayanya. Reflektor biasanya menyebar (dilapisi cat atau bubuk putih sebagai penutup) atau specular (dilapis atau seperti kaca). Tingkat pemantulan bahan reflektor dan bentuk reflektor berpengaruh langsung terhadap efektifitas dan efisiensi fitting. Reflektor konvensional yang menyebar memiliki tingkat pemantulan 70-80% apabila baru. Bahan yang lebih baru dengan daya pemantulan yang lebih tinggi atau semi-difusi memiliki daya pemantulan sebesar 85%. Pendifusi/Diffuser konvensional menyerap cahaya lebih banyak dan menyebarkannya daripada memantulkannya ke area yang dikehendaki. Lama kelamaan nilai daya pantul dapat berkurang disebabkan penumpukan debu dan kotoran dan perubahan warna menjadi kuning disebabkan oleh sinar UV. Reflektor specular lebih efektif dimana pemantul ini memaksimalkan optik dan daya pantul specular sehingga membiarkan pengontrolan cahaya yang lebih seksama dan jalan pintas yang lebih tajam. Dalam kondisi baru, lampu ini memiliki nilai pantul sekitar 85-96%. Nilai tersebut tidak berkurang seperti pada reflektor konvensional yang berkurang karena usia. Bahan yang umum digunakan adalah alumunium yang diberi perlakuan anoda (nilai pantul 85-90%) dan lapisan perak yang dilaminasikan ke bahan logam (nilai pantul 91-95%). Menambah (atau melapisi) alumunium dilakukan untuk mencapai nilai pantul lebih kurang 88-96%. Lampu harus tetap bersih agar efektif, reflektor optik kaca tidak boleh digunakan dalam peralatan yang terbuka di industri dimana peralatan tersebut mungkin akan terkena debu.
Gir
Gir yang digunakan dalam peralatan pencahayaan adalah sebagai berikut:
  • Balas: Suatu alat yang membatasi arus, untuk melawan karakteristik tahanan negatif dari berbagai lampu pelepas. Untuk lampu neon, alat ini membantu meningkatkan tegangan awal yang diperlukan untuk memulai penyalaan.
  • Ignitors: Digunakan untuk penyalaan awal lampu Metal Halida dan uap Sodium intensitas tinggi.
3. PENGKAJIAN SISTIM PENCAHAYAAN
Meliputi perancangan sistim penerangan untuk interior dan juga metodologi studi efisiensi energi sistim pencahayaan, dan juga memberi rekomendasi nilai penerangan yang diperlukan oleh berbagai jenis pekerjaan sesuai dengan standar India.
3.1.    Merancang Sistim Pencahayaan
3.1.1. Berapa banyak cahaya yang diperlukan?
3.1.2. Rancangan pencahayaan untuk inerior
3.2.    Tingkat Pencahayaan Yang Direkomendasikan Untuk Berbagai Tugas/ Kegiatan/Lokasi
3.3.    Metodologi Studi Efisiensi Energi Sistim Pencahayaan
4. PELUANG EFISIENSI ENERGI
Memberikan berbagai alat dan cara dimana energi dapat dihemat dengan penerapan praktek pencahayaan yang baik.
4.1. Penggunaan Pencahayaan Alami Siang Hari
Manfaat dari pemakaian cahaya alami pada siang hari sudah dikenal dari pada cahaya listrik, namun cenderung terjadi peningkatan pengabaian terutama pada ruang kantor modern yang berpenyejuk dan perusahaan komersial seperti hotel, plaza pebelanjaan dll. Di industri pada umumnya menggunakan cahaya siang untuk beberapa model, namun perancangan sistim pencahayaan siang hari yang tidak benar dapat mengakibatkan koplain dari personil atau penggunaan cahaya listrik tambahan pada siang hari. Pertimbangkan ruangan yang memerlukan tingkat pencahayaan 500 lux. Untuk menghitung pengurangan pantulan dan penyebaran pada titik atap kaca, asumsikan bahwa 40% cahaya matahari melalui atap kaca ke ruangan. Jadi, pada hari yang terang benderang, sekitar 2% dibutuhkan atap yang tembus pandang. Untuk menanggulangi sudut matahari yang rendah, kondisi berkabut, atap kaca kotor, dll., lipatkan dari nilai tersebut sekitar 4%. Untuk menghitung kondisi berawan rata-rata, naikan nilai ini ke 10% atau 15%. Beberapa metoda untuk menggabungkan pencahayaan siang hari adalah:
  • Pencahayaan utara dengan menggunakan tiang penopang bubungan jenis gigi gergaji sangat umum digunakan di industri; rancangan ini cocok untuk garis lintang utara 23 yakni India Utara. Di India Selatan, pencahayaan ke arah utara mungkin tidak cocok kecuali jika kaca penyebar cahaya digunakan untuk memotong arah cahaya.
  • Rancangan yang inovatif memungkinkan akan menghilangkan sorotan cahaya siang hari dan mencampurkan dengan interior. Potongan kaca, berjalan secara sinambung melintasi atap yang luas pada rentang yang beraturan, dapat memberikan cahaya yang baik dan seragam pada lantai bengkel pabrik dan tempat penyimpanan.
  • Sebuah rancangan yang bagus yang memadukan kaca atap dengan bahan FRP bersamaan dengan langit-langit transparan dan tembus cahaya dapat memberikan pencahayaan bagus bebas silau; langit-langit juga akan memotong panas yang datang dari cahaya alami.
  • Pemakaian atrium dengan kubah FRP pada arsitektur dasar dapat menghilangkan penggunaan cahaya listrik pada lintasan gedung-gedung tinggi.
  • Cahaya alam dari jendela harus juga digunakan. Walau begitu, hal ini harus dirancang dengan baik untuk menghindari silau. Rak cahaya dapat digunakan untuk memberikan cahaya alami tanpa silau.
4.2. De–lamping untuk mengurangi pencahayaan yang berlebihan
De-lamping merupakan metode yang effektif untuk mengurangi pemakaian energi cahaya. Di beberapa industri, penurunan tinggi bantalan lampu memberikan luminers yang efisien dan delamping telah meyakinkan bahwa penerangan sangat sulit dipengaruhi. De-lamping pada ruang kosong dimana tidak ditampilkan pekerjaan aktif juga merupakan konsep yang sangat berguna.
4.3. Pencahayaan Tugas Khusus
Pencahayaan tugas khusus menunjukkan dibutuhkannya pencahayaan yang baik hanya pada areal yang kecil dimana aktifitas tersebut dilaksanakan, sementara penerangan umum pada lantai bengkel atau kantor dijaga pada tingkat yang lebih rendah; misal lampu yang tergantung pada mesin atau lampu meja. Penghematan energi terjadi disebabkan pencahayaan tugas khusus dapat dicapai dengan lampu yang memiliki watt rendah. Konsep pencahayaan untuk tugas ini jika diterapkan dengan bijaksana, dapat mengurangi jumlah peralatan pencahayaan umum, mengurangi watt lampu, menghemat energi dan memberikan penerangan yang lebih baik serta memberikan suasana sekitar yang berestetika menyenangkan.
4.4.   Pemilihan Lampu dan Pencahayaan yang Berefisiensi Tinggi
4.5.   Pengurangan Tegangan Pengumpan Pencahayaan
4.6.   Balas Elektronik
4.7.   Kehilangan Kecil Chokes Elektromagnetik untuk Cahaya Tabung
4.8.   Pencatat Waktu, Saklar Malam & Sensor Penempatan
4.9.   T5 Lampu Neon
4.10. Perawatan Lampu
5. DAFTAR OPSI EFISIENSI
Opsi efisiensi energi yang sangat penting :
  • Kurangi tingkat pencahayaan yang berlebih ke tingkat standar dengan menggunakan saklar, pengurangan lampu, dll. (Ketahui terlebih dahulu pengaruh listrik sebelum melakukan pengurangan lampu)
  • Rajin mengontrol cahaya dengan jam waktu, pelambat waktu, photocells, dan/atau sensor penempatan.
  • Pasang alternatif-alternatif yang efisien terhadap lampu pijar, lampu uap merkuri, dll.
  • Efisiensi (lumens/watt) berbagai kisaran teknologi mulai dari yang terbaik hingga yang terburuk kira-kira sebagai berikut: sodium tekanan rendah, sodium tekanan tinggi, logam halida, neon, uap merkuri, pijar.
  • Pilih balas dan lampu secara hati-hati dengan faktor daya tinggi dan efisiensi jangka panjang dari sistim neon yang sudah usang ke neon kompak dan balas elektronik.
  • Pertimbangkan untuk merendahkan peralatan agar mampu menggunakannya lebih sedikit.
  • Pertimbangkan cahaya siang hari, kaca atap, dll.
  • Pertimbangkan pengecatan dinding dengan warna yang lebih terang dan menggunakan sedikit peralatan pencahayaan atau menurunkan watt.
  • Gunakan lampu tugas dan kurangi pencahayaan latar belakang.
  • Evaluasi kembali kontrol, jenis, strategi pencahayaan luar ruangan. Kontrol dengan giat.
  • Ubah tanda keluar dari lampu pijar ke LED.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar